detikcom : Wall Street Lanjutkan Penguatan di Akhir Pekan

title : Wall Street Lanjutkan Penguatan di Akhir Pekan
summary : Saham-saham di bursa Wall Street melanjutkan penguatannya di akhir pekan ini. Penguatan terjadi di tengah volume perdagangan yang tipis.

detikcom : Daya Saing RI Idealnya Masuk 20 Besar

title : Daya Saing RI Idealnya Masuk 20 Besar
summary : Indonesia bisa berpeluang meraih peringkat 20 besar daya saing tertinggi di dunia, asalkan masalah infrastruktur dan reformasi birokrasi bisa dibereskan.

detikcom : Sambut Data Ekonomi, Wall Street Melaju

title : Sambut Data Ekonomi, Wall Street Melaju
summary : Saham-saham di bursa Wall Street menguat pada perdagangan Kamis, menyambut data positif di sektor tenaga kerja dan perdagangan.

JAMUR KUPING

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGANTAR BUDIDAYA

JAMUR SHIITAKE

 

(LENTINULA EDODES) &

JAMUR KUPING

 

(AURICULARIA POLYTRICHA)

Oleh:

I Nyoman Aryantha

Program Pelatihan P3T

CSED – DEPNAKER JABAR

Bandung, 26 Februari 1999

PPAU ILMU HAYATI-LP-ITB

Jalan Ganesha 10 Bandung 40132

Tlp/Fax : 022 2509165

email : iucls@iucls.itb.ac.id

I. BUDIDAYA JAMUR SHIITAKE (

L. EDODES)

Shiitake yang disebut juga ‘Chinese Black Mushroom’ sudah dikenal sebagai jamur

konsumsi sejak 2000 tahun yang silam di dataran Asia (Cook, 1989). Produksi jamur

Shiitake secara industri massal pertama kali dilakukan di Jepang pada tahun 1940an.

Namun budidaya secara traditional sudah dimulai sejak 900 tahunan yang silam di Cina.

Shiitake adalah jamur yang diproduksi paling besar kedua setelah jamur Champignon

dimana Jepang adalah negara produsen terbesar di dunia (Chang dan Miles, 1989).

1.1 Karakteristik biologis

Shiitake diambil dari kata Shii (pohon Shii) dan take (jamur) yakni tempat ditemukannya

jamur ini pertama kali. Di Cina jamur ini disebut Shiang-Gu yang berarti jamur beraroma

(fragrant mushroom). Jamur ini termasuk dalam kelas Basidiomycetes yaitu jamur yang

menghasilkan spora pada basidium. Nama ilmiah yang kini dipakai di kalangan ilmuwan

taksonomi adalah

 

Lentinula edodes. Sebelumnya jamur ini disebut juga

Lentinus edodes

Cortinellus shiitake, Cortinellus edodes, Cortinellus berkeleyanus

 

, dan

Armillaria edodes

(Leatham dan Leonard, 1989).

Deskripsi jamur Shiitake adalah sebagai berikut : berbentuk payung dengan batang

sentral (3 – 5 cm) yang kadang masih tampak sisa cadar parsial (partial veil); tudung (5 –

12 cm) agak mendatar berwarna krem kecoklatan, yang kalau kering akan pecah-pecah

membentuk sisik-sisik dengan bentuk dan ukuran bervariasi; insang berwarna putih

menempel pada batang dan spora berwarna putih.

Penyebaran jamur Shiitake secara alami adalah mulai dari dataran Cina, Jepang, Taiwan,

Malaysia, Indonesia, sampai ke Papua Newgini (Chang dan Hayes, 1978). Jamur ini

tumbuh secara alami pada pohon-pohon berdaun lebar yang sudah mati (kelas Fagaceae)

seperti Oak, Shii, Beech, dan Chestnut (San Antonio, 1981). Dengan sistem kultivasi log

serbuk gergajian kayu, jamur ini dapat tumbuh juga pada kayu Albasia, Jati, Mahoni,

Pasang, Saninten, dan Kapur (Campbell, 1989).

1.2 Kebutuhan nutrien

Substrat pertumbuhan jamur ini sebagaimana halnya jamur kayu yang lain adalah bahan

yang mengandung lignin dan selulosa yang umumnya terdapat pada tumbuhan yang

berkayu. Dalam aspek pembudidayaan modern penyediaan sumber nutrien dalam substrat

tanam adalah faktor yang sangat penting dalam pertumbuhan jamur. Pada dasarnya

kebutuhan nutriennya seperti halnya dengan jamur lain terdiri dari sumber karbon,

nitrogen, vitamin dan mineral. Sumber karbon yang baik bagi Shiitake adalah senyawa

pektin, hemiselulosa dan pati. Sedangkan sumber nitrogen yang baik adalah dalam

bentuk asam amino, ammonia dan urea. Kadar nitrogen dalam substrat tanamnya

berkaitan dengan kadar senyawa protein yang dihasilkan tubuh buah. Kadar nitrogen

mesti dalam konsentrasi yang tepat karena kadar yang berlebih justru dapat meghambat

pertumbuhan demikian juga sebaliknya. Meskipun demikian pada saat pembentukan

tubuh buah kadar nitrogen yang minim (kekurangan) justru dapat memacu pembuahan

(Leatham dan Leonard, 1989). Kebutuhan akan vitamin terutama halnya dengan thiamin

(B-1) biasanya terpenuhi dengan penambahan biji-bijian atau dedak. Mineral umumnya

sudah terkandung dari air dan bahan dasar substrat meskipun demikian penambahan

mineral seperti kalium dan magnesium bisa dilakukan dengan pemberian senyawa kimia

seperti KNO3 dan MgSO4.

1.3 Persyaratan fisik

Sebagaimana halnya jamur lain faktor kelembaban tinggi adalah syarat utama yang harus

terpenuhi dalam budidaya jamur Shiitake. Kadar air substrat untuk pertumbuhan

vegetatip tergantung dari jenis substrat yang dipakai. Untuk substrat kayu utuh, kadar air

optimum adalah 45-60% sedangkan dengan substrat serbuk gergajian adalah 60-75%.

Meskipun demikian faktor fisik lain seperti suhu, oksigen cahaya dan gaya tarik bumi

juga merupakan faktor-faktor penting. Pertumbuhan vegetatif opotimum adalah pada

suhu 20-22

 

o

C. Sedangkan pada saat pertumbuhan tubuh buah memerlukan suhu optimum

yang bervariasi tergantung strainnya. Untuk strain dingin dapat menghasilkan tubuh buah

dengan baik pada suhu 12-18

 

oC dan strain tropis pada suhu 20-22o

C.

Sebagaimana halnya jamur lain, proses aerasi adalah hal yang juga vital. Shiitake seperti

halnya jamur pada umumnya membutuhkan kadar oksigen lebih tinggi pada saat

pembentukan tubuh buah dibandingkan dengan tahap pertumbuhan vegetatif miselium.

Itulah sebabnya log-log plastik yang telah terjadi pertumbuhan miselium vegetatif harus

dibuka pada saat yang tepat. Tentunya hal ini akan mempengaruhi penguapan air dari

dalam log yang tidak kita inginkan. Untuk menanggulanginya dilakukan penyiraman

dengan air kran.

Faktor fisik lain adalah cahaya. Kebanyakan jamur membutuhkan cahaya pada fase

pertumbuhan generatif atau akhir fase vegetatif. Cahaya terutama berperan dalam proses

perangsangan terbentuknya tubuh buah. Cahaya yang berperan dalam pembentukan

primordia ini adalah cahaya biru sampai mendekati ultraviolet. Cahaya pada rentang

lamda (

 

λ

) ini terdapat pada cahaya matahari. Cahaya buatan dengan lampu TL dengan

kekuatan 100-300 LUX juga sudah mencukupi. Sebagai patokan kasar, intensitas cahaya

yang dianggap cukup apabila dalam ruangan kita dapat membaca koran dengan jarak satu

lengan antara koran dan mata.

Faktor fisik yang terakhir adalah gaya tarik bumi (gravity). Pertumbuhan miselium

vegetatif umumnya lebih cepat di dalam log dengan posisi vertikal. Ini menandakan

adanya pengaruh gaya gravitasi terhadap pertumbuhan miselium.

1.4 Cara budidaya

Tahap-tahap pekerjaan pada dasarnya sama dengan cara budidaya jamur Tiram yang

mencakup : penyiapan substrat, pencampuran substrat, pengantongan (logging),

sterilisasi, inokulasi bibit, inkubasi, pemeliharaan tubuh buah, dan panen. Yang berbeda

adalah perlakuan faktor-faktor fisik pada saat pemeliharaan tubuh buah, serta formulasi

substrat tanam. Oleh karena itu, sebaiknya memahami dulu cara budidaya jamur Tiram

sebelum mencoba jamur Shiitake.

1.4.1 Penyiapan substrat

Beberapa contoh formulasi substrat tanam untuk jamur Shiitake adalah sbb:

Formula A Formula B

 

Serbuk gergajian kayu = 5000 g * Serbuk gergajian kayu = 800 g

 

Dedak = 150 g * Dedak = 200 g

 

Tepung maizena = 100 g * Sukrosa = 30 g

 

Gula merah = 60 g * KNO3 = 4 g

 

Gypsum = 150 g * CaCO3 = 6 g

 

Amonium sulfat = 2 g * Air = 2 Liter

 

Kalsium super fosfat = 3 g

 

Kadar air = 65%

Formula C

 

Serbuk gergajian kayu = 45%

 

Dedak = 10%

 

Kulit kacang = 45%

 

Air = 65%

1.4.2 Pencampuran substrat

Bahan-bahan penyusun substrat harus diaduk sehomogen mungkin untuk menjamim

pertumbuhan miselium yang merata ke seluruh bagian dari substrat. Pencampuran dengan

alat (mesin) akan lebih menjamin kemerataan pencampuran dibandingkan dengan cara

manual. Namun demikian cara manual dapat dilakukan dengan waktu pencampuran yang

lebih lama tentunya. Yang penting dalam pencampuran adalah tidak ada bahan yang

menggumpal terpusat pada suatu tempat. Bahan yang berupa butiran padatan berukuran

relatif besar seperti gula atau kapur harus dihaluskan terlebih dahulu untuk memudahkan

pencampuran. Cara yang baik untuk menjamin kemerataan penyebaran bahan yang

berupa butiran padat tadi adalah dengan cara melarutkannya terlebih dahulu ke dalam air

yang akan dipakai dalam campuran. Terutama bahan yang konsentrasinya rendah eperti

sukrosa dan amonium sulfat sebaiknya dilarutkan dulu dalam air.

Untuk mengurangi derajat kontaminasi oleh mikroba liar, proses fermentasi sering

dipraktekkan setelah pencampuran ini. Proses ini juga seperti dapat membantu

menguraikan beberapa senyawa kompleks menjadi lebih sederhana sehingga dapat

dimanfaatkan oleh jamur yang kita tanam. Proses ini dilakukan selama 3-5 hari

tergantung keadaan bahan baku substrat. Selama proses fermentasi (pengomposan) ini

harus dilakukan pengadukan untuk memberikan kesempatan yang merata pada setiap

bagian dari substrat. Pengadukan biasanya dilakukan tiap hari sekali terutama saat

dicapai suhu yang tinggi di dalam gundukan pengomposan.

1.4.3 Pengantongan (logging)

Pengantongan adalah proses selanjutnya yakni memasukkan substrat yang telah dicampur

merata ke dalam kantong plastik polypropylene yang tahan panas. Kantong diisi dengan

substrat secukupnya (tidak terlalu padat dan juga tidak terlalu longgar) sesuai dengan

ukuran log yang diinginkan. Batasan kepadatan log dapat dilakukan dengan jalan

memukul-mukulkan dengan sebuah botol yang diberi pemberat pasir. Memadatkan

dengan pukulan botol berisi pasir (tanpa tenaga tambahan) akan menghaislkan kepadatan

yang sesuai. Setelah kantong diisi dengan substrat secukupnya lalu diberi ring dan kapas

sebagai tempat memasukkan bibit nantinya.

1.4.4 Sterilisasi

Log yang sudah diberi ring dan tutup kapas ini kemudian disterilkan dengan alat autoklaf

atau dipasteurisasi dengan cara mengukus. Cara pertama adalah dengan pemanasan tinggi

(121

 

o

C selama tidak kurang ari 1 jam) sedangkan cara kedua adalah pemanasan dengan

suhu tidak lebih dari 100

 

o

C dalam waktu tidak kurang dari 5 jam tergantung banyaknya

log yang dipasteurisasi. Kadang pasteurisasi dilakukan secara berulang yakni

memberikan kesempatan bagi bentuk-bentuk resisten dari mikroba untuk berkecambah

menghasilkan bentuk vegetatif dengan demikian dapat dimatikan dengan mudah pada

proses pemanasan yang berikutnya. Tentu cara ini akan menghasbiskan biaya yang lebih

besar mengingat energi bahan bakar atau listrik yang dihabiskan akan lebih banyak.

Namun demikian, hasil yang didapat akan lebih baik karena proses berulang ini akan

lebih menjamin terbunuhnya mikroba-mikroba kontaminan.

1.4.5 Inokulasi bibit

Log-log steril yang sudah dingin sekarang siap diberi (diinokulasikan) bibit secara

aseptis. Penginokulasian dapat dilakukan dengan cara membuat lobang sebelumnya lalu

mengisi penuh lobang tersebut dengan bibit atau dapat pula dengan cara menyebarkan

bibit hanya pada permukaan saja. Untuk satu log substrat tanam cukup memerlukan bibit

sekitar 3-5 sendok the. Pada dasarnya, satu sendok the saja sebenarnya sudah cukup.

Namun, untuk lebih meyakinkan pertumbuhan miselium yang lebih cepat maka jumlah

bibit yang lebih dari itu akan lebih baik. Selama proses penginokulasian usahakan tidak

berbicara secara berlebihan karena uap air yang keluar dar mulut dapat saja

mengkontaminasi substrat yang hendak doberi bibit. Sesudah bibit diinokulasikan lalu

log ditutup kembali dengan kapas lalu log-log yang sudah berisi bibit diimpan di dalam

ruang inkubasi.

1.4.6 Inkubasi

Inkubasi maksudanya adalah proses pemeliharaan (penumbuhan) miselium dalam kondisi

pertumbuhan yang terbaik bagi jamur. Inkubasi biasanya dilakukan pada ruang yang

khusus dimana suhu ruang dapat dijaga konstan. Pada fase inkubasi miselium ini tidak

disarankan untuk melakukan pengaturan kelembaban dalam ruang inkubasi. Kelembaban

sudah terjamin dari kadar air substrat yang diberikan dalam proses pencampuran substrat

sebelumnya. Kelembaban ruang inkubasi tidak banyak membantu kelembaban di dalam

kantong plastik. Salah-salah, kelembaban ruang inkubai dapat menyebabkan spora liar

yang menempel pada kapas penutup dapat berkecambah kemudian miselium jamur liar

ini dapat merambah masuk ke dalam kantong. Oleh karena itu disarankan untuk tidak

membiarkan ruang inkubasi terlalu lembab.

1.4.7 Pemeliharaan tubuh buah

Selanjutnya setelah log ditumbuhi penuh dengan miselium maka log dapat dipindahkan

ke dalam ruang pemeliharaan tubuh buah. Perkembangan log akan melewati tahap-tahap

sebagai berikut :

􀂃

 

Pembentukan lapisan miselium permukaan yang tebal

􀂃

 

Pembentukan benjolan

􀂃

 

Pembentukan warna coklat (pigmentasi)

􀂃

 

Pengerasan lapisan luar

􀂃

 

Pembentukan primordia

Log dipelihara sampai terbentuk lapisan miselium yang mengeras pada permukaan log.

Setelah itu akan muncul benjolan-benjolan dengan ukuran yang bervariasi yang tampak

menyembul ke permukaan log. Pada saat ini tutup kapas mulai diperlonggar untuk

membantu sirkulasi udara yang membantu pigmentasi. Kemudian akan diikuti dengan

pembentukan warna kecoklatan yakni suatu tanda pigmentasi. Setelah terbentuk pigmen

tutup kapas dibuka sepenuhnya. Lapisan miselium yang kecoklatan ini kemudian

mengeras seperti kulit batang dalam waktu sekitar 30 hari. Respon ini biasanya berkaitan

dengan upaya dari jamur untuk mengurangi penguapan air dari log. Kadar air di dalam

log akan tetap tinggi tetapi di luar relatif kering. Kulit inilah yang berperan sebagai

pelindung miselium di dalam log dari proses penguapan dan serangan jamur liar.

Pada saat ini, proses pembuahan sudah mulai dipersiapkan dengan memberikan

rangsangan fisik berupa suhu dingin dan kadar air yang berlimpah. Dapat dilakukan

dengan cara merendam log jamur dalam air selama beberapa jam sampai semalaman

dengan suhu sekitar 15

 

°

C. Setelah proses perangsangan selesai, log disimpan kembali

pada rak pemeliharaan. Pemeliharaan selanjutnya sangat ditentukan dari pengaturan

kadar oksigen dan kelembaban udara.

Pengaturan kadar oksigen dapat dilakukan dengan membuka jendela ventilasi pada saat

kelembaban udara di luar tinggi. Pengaturan kelembaban dapat dilakukan dengan cara

penyiraman dengan air secara berkala terutama kalau kelembaban udara di luar rendah

(biasanya siang hari). Kadar CO

 

2

yang dibolehkan dalam ruang pemeliharaan adalah

berkisar dari 1200-1500 ppm (Wuest, 1989).

Kadar air log selama proses pembentukan tubuh buah harus dipertahankan antara 55-

65%. Di atas dan di bawah rentang ini akan mengganggu proses pembentukan primordia

(Donoghue & Przybylowicz, 1989). Untuk menjaga kadar air ini dapat dilakukan dengan

menjaga kelembaban udara di ruang pemeliharaan antara 80-90%. Setelah tubuh buah

mencapai ukuran dewasa, kelembaban udara diatur berkisar antara 65-85%. Hal ini

dilakukan untuk memperoleh tubuh buah dengan aroma dan tekstur yang lebih baik.

Kalau dalam periode ini kelembaban udara terlalu tinggi akan menghasilkan tubuh buah

dengan tekstur yang lembek relatif tidak dapat disimpan lama juga aroma yang kurang

baik. Dengan penurunan kelembaban akan menghasilkan tubuh buah yang pecah-pecah

dengan tekstur yang lebih keras dan dapat disimpan dalam waktu relatif lebih lama dan

aroma yang lebih baik. Tekstur seperti ini biasanya lebih disukai oleh konsumen terutama

konsumen luar negeri.

1.4.8 Pemanenan

Proses pembentukan tubuh buah bisa terjadi dalam waktu 5-6 bulan setelah inokulasi.

Proses ini dapat terjadi sebanyak 2-3 kali dengan periode istirahat berkisar sekitar 6

bulan.

Pemanenan dilakukan setelah tudung membuka sekitar 60-70%. Pada fase ini kondisi

tudung sudah menampakkan lemella pada bagian bawah tetapi pinggiran masih sedikit

menggulung. Kalau lewat dari itu jamur biasanya sudah terlalu tua dan sudah dihasilkan

spora dan kualitas jamur biasanya tidak baik (tekstur, waktu simpan dan aroma).

Sedangkan kalau dipanen sebelum itu tidak akan menghasilkan hasil panen yang

maksimum (produktivitas rendah) disamping kualitasnya juga tidak baik.

Disamping cara budidaya dengan sistim log serbuk gergajian, juga dikenal cara budidaya

dengan sistim log kayu utuh. Cara ini merupakan cara tradisional yang banyak dilakukan

di Jepang. Cara ini memiliki kelebihan karena dihasilkan tubuh buah dengan aroma dan

tekstur yang lebih khas. Namun kelemahannya adalah dari segi waktu yang lebih lama

(sampai 1,5 tahun) dan produktivitas yang relatif lebih rendah. Disamping itu luas area

yang dibutuhkan juga lebih luas untuk menghamparkan log-log kayu yang sudah

diinokulasi di lantai hutan sebagai area penginkubasian.

1.5 Pasca panen

Hasil panen jamur Shiitake dapat dikeringkan dengan sinar matahari atau alat pengering

buatan sebelum dipasarkan dalam bentuk kering. Jamur Shiitake yang kering dapat

bertahan lebih lama dibandingkan dengan yang basah. Oleh karena itulah cara

pengeringan paling banyak dilakukan. Untuk menghindari supaya jamur yang sudah

kering tidak kembali menyerap uap air dari udara, maka pengemasan lebih baik

dilakukan dengan sistim fakum. Jamur yang sudah dikeringkan teksturnya dapat kembali

seperti tekstur awal setelah direndam dalam air hangat. Shiitake mengandung senyawa

aktif obat bermanfaat bagi kesehatan sehingga sering juga dimanfaatkan sebagai bahan

pengobatan tradisional. Untuk tujuan pasar lokal, jamur dalam bentuk segar juga sering

dipasarkan di pasar-pasar swalayan yang dikemas langsung dalam kemasan plastik.

II. BUDIDAYA JAMUR KUPING (

A. POLYTRICHA)

Jamur Kuping adalah jamur yang pertama kali dibudidayakan bahkan sebelum jamur

Shiitake di Cina. Di Indonesia jamur Kuping sangat lumrah dikenal di kalangan

masyarakat menengah ke bawah setelah jamur merang. Pada acara-acara pesta hajatan

masakan sop (kimlo) sangat umum menggunakan jamur Kuping di dalamnya.

Masyarakat tradisional masih sering mengambil jamur ini dari alam yang biasanya

tumbuh pada batang-batang yang sudah lapuk. Kini jamur Kuping terutama jenis

 

A.

polytricha

 

sudah banyak dibudidayakan secara modern dalam log-log serbuk kayu.

Menurut data statistik, produksi segar jamur kuping (worldwide) menempati urutan

keempat (346.000 ton) setelah Champignon, Tiram dan Shiitake pada tahun 1991

(Chang, 1993).

Pada dasarnya cara budidaya jamur kuping hampir sama dengan cara budidaya jamur

Tiram dan Shiitake yakni dengan tahap-tahapan sbb : penyiapan substrat, pencampuran

substrat, pengantongan (logging), sterilisasi, inokulasi bibit, inkubasi, pemeliharaan

tubuh buah, dan panen. Yang berbeda mungkin komposisi substrat dan cara pemeliharaan

tubuh buahnya yang memerlukan kondisi-kondisi fisik yang sedikit berbeda

dibandingkan dengan jamur Tiram dan Shiitake, serta waktu panenan yang lebih singkat.

Untuk menghindari kemubasiran cerita mengenai keterangan tahap-tahap pembudidayaan

maka tidak akan disajikan lagi tahap-tahap secara detail seperti pada jamur Shiitake

sebelumnya. Dalam bagian ini hanya akan dibahas hal-hal yang berbeda yang perlu

diperhatikan dalam budidaya jamur Kuping secara spesifik. Rangkuman tahap-tahap

pembudidayaan secara umum adalah sbb :

±

 

30o

C

±

 

30 hari

Penyiapan substrat

Pencampuran

substrat

Pengantongan

(logging)

Sterilisasi

Inokulasi bibit

Inkubasi miselium

±

 

85%

24-27

 

o

C

±

 

15 hari

3-4 kali (selang 14 h)

±

 

400 g/log (total)

Komposisi substrat. Berikut adalah dua contoh komposisi substrat tanam untuk jamur

Kuping yang sudah perna dicoba dan dilaporkan oleh beberapa peneliti.

Formula A

 

Serbuk gergajian kayu = 78%

 

Dedak = 20%

 

Kapur (CaCO3) = 1%

 

Sukrosa = 1%

 

Air = 70%

Formula B

 

Serbuk gergajian kayu = 78%

 

Dedak = 10%

 

Kapur (CaCO3) = 1%

 

NPK (1:1:1) = 0,5%

 

Air = 70%

Selanjutnya, hal yang sedikit berbeda dengan cara budidaya jamur Shiitake adalah pada

tahap inkubasi miselium yang memerlukan suhu relatif lebih tinggi (

 

±30o

C)

dibandingkan dengan Shiitake. Demikian juga waktu yang dibutuhkan untuk

menghasilkan tubuh buah dari mulai inokulasi log adalah lebih singkat yakni sekitar 50

hari. Selama pemeliharaan tidak terjadi tahap-tahap yang sperti pada Shiitake (lapisan

tebal miselium permukaan, pembentukan benjolan, pembentukan warna coklat

(browning) dan pengerasan lapisan luar). Dalam hal pemeliharaan tubuh buah hampir

mirip dengan pemeliharaan jamur Tiram. Sepanjang kelembaban udara dipertahankan

tinggi (

 

±85%) pada temperatur yang sesuai (24-27o

C), kadar Oksigen yang cukup (tidak

terasa susah bernafas di dalam ruangan) dan kadar cahaya

 

±

500 LUX, maka jamur

Kuping akan dihasilkan dan berkembang normal dengan sendirinya. Dengan kata lain,

budidaya jamur kuping lebih mudah dibandingkan dengan berbudidaya jamur Shitake.

Apabila tubuh buah sudah dihasilkan, maka waktu panen dapat dilakukan sampai dicapai

ukuran tubuh buah yang masksimum. Berbeda halnya dengan jamur Tiram, tubuh buah

jamur Kuping dapat bertahan relatif lebih lama pada log. Demikian juga pada saat

Pemeliharaan

tubuh buah

Panen

melakukan panen, primordia yang masih kecil sebaiknya jangan ikut dipanen habis

karena masih dapat berkembang lebih besar. Hal ini tidak boleh dilakukan pada jamur

Tiram.

Jamur Kuping akan kering dalam suhu kamar dengan catatan tidak dilakukan penyiraman

pada saat panen. Meskipun demikian, pengeringan dengan sinar matahari tentunya akan

lebih cepat. Setelah panen Jamur Kuping dapat bertahan lebih lama dibandingkan dengan

jamur Tiram dan Shiitake.

III. PUSTAKA

Campbell, A.C. dan R.W. Slee, Extensive system of Shiitake production in S.W.

England, dalam Shiitake Mushrooms, The proceedings of national symposium and

trade show, May 3-5 1989.

Chang, S.T dan W.A. Hayes, 1978, The Biology and Cultivation of Edible Mushrooms,

Academic Press., Inc., New York, London.

Chang, S.T, 1993, Mushroom biology : the impact on mushroom production and

mushroom products. In : S.T Chang

 

et al

., (eds) Mushroom biology and mushroom

wah hebatnya

image002wah hebatnya

Joni !

Si kecil Joni diperintahkan Papa pergi ke kamarnya dan segera tidur. 
            Lima menit kemudian

            Joni: “Pa…”

            Papa: ” Ada apa?”

            Joni: “Joni haus Pa. Bawain air dong”

            Papa: “Tidak. Jangan pakai alasan itu. Ayo tidur! Matiin 

                        lampunya”

            Lima menit kemudian

            Joni: “Pa…..!”

            Papa: ” ADA APA LAGI!”

            Joni: “Joni HAUS. Aku boleh minum ya”

            Papa: ” Kan Papa sudah bilang tidak! Kalau kamu ngomong

                         lagi, Papa akan pukul Pantatmu!”

            Lima menit kemudian

            Joni: “Paaaaa….. ”

            Papa: “APA!!!!!!!”

            Joni: “Kalo papa kemari mau mukul pantat Joni, sekalian

                       bawain airnya ya Pa”

 



            Mama: “Joni, sini!”

            Joni: ” Ada apa Ma?”

            Mama” “Kamu benar-benar bikin Mama kecewa. 

                          Nilaimu kok makin jelek aja!”

            Joni: “Tapi Ma, penerimaan Rapor kan baru besok”

            Mama: “Mama tau. Tapi Mama besok mau belanja ke

                          Singapore , jadi sekarang aja Mama marahin kamu!”



            Papa: “Joni! Kenapa nilai matematikamu jelek?”

            Joni: ” Abisnya Pa , Senin kemaren guru bilang 3+5 = 8″

            Papa: “Lantas kenapa?”

            Joni: “Hari Selasa bu guru bilang 4 + 4 = 8. Hari Rabu dia

                       bilang 6 + 2 = 8. Kalo bu guru ngomongnya beda-

                       beda begitu, gimana Joni tau mana yang benar?”



            Guru: “Joni, berapa tahun umur ayahmu?”

            Joni: “Sama dengan umur saya Bu Guru”

            Guru” “Kok bisa sama?”

            Joni: “Dia kan baru jadi ayah sejak saya lahir bu guru”



            Guru: “Joni, kenapa isi karanganmu yang berjudul

                      “Anjingku” sama persis dengan isi karangan

                        kakakmu? Kamu nyontek ya!”

            Joni: “Nggak Bu. Anjingnya yang sama”



              Papa: “Gurumu bilang kamu ini nggak bisa diajari

                           apapun!”

            Joni: “Itu makanya Joni bilang dia nggak berguna Pa!”



 
            Guru: “Kamu lahir di mana?”

            Joni: “Di Kalimantan Pak”

            Guru: “Bagian mana?”

            Joni: “Seluruh bagian badan saya Pak”

 



             Guru: “Kenapa rambutmu nggak di sisir?”

            Joni: “Nggak punya sisir bu”

            Guru: ” Kan bisa kamu pakai punya ayahmu”

            Joni: “Ayah nggak punya rambut Bu”

PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU

> PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU
>
> Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku..
> Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah
> Mario
> tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.
>
> Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia
> cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang
> kerumah,
> mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit,
> makannya
> pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.
>
> Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja,
> dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu
> pacaran
> dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak
> memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.
>
> Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi
> nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau
> kami
> makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami,
> bukan obrolan
> yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.
>
> Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran
> dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas.
> Karena
> dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.
>
> Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun
> pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu
> suamiku
> tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di
> kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di
> RS,
> karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU,
> seorang
> perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha,
> temannya
> Mario saat dulu kuliah.
>
> Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi
> aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki.
> Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia
> berbicara,
> seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan
> dan
> penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga
> yang
> lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.
>
> Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama
> mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang
> punya
> teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor
> mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising
> akhirnya
> bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya
> bekerja.
>
> Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang
> cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis
> padaku,
> dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum
> baru,
> dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung
> didepan
> komputernya. . Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia
> bilang, ada
> pekerjaan yang membingungkan.
>
> Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit
> dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya
> dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk
> kamar,
> dan menyapa dengan suara riangnya,
>
> ” Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu
> ini ? tidak mau makan juga? uhh. dasar anak nakal, sini piringnya, ” lalu
> dia
> terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring
> nasi
> itu sudah habis ditangannya. Dan..aku tidak pernah melihat tatapan penuh
> cinta
> yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur
> hidupku
> yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun !
>
> Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia
> membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia
> mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku
> melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau
> memakan
> masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit
> ketika dia
> tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit
> dari
> rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.
>
> Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat
> perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat
> buat
> anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang
> mengajakku
> nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.
>
> Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai
> perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu,
> apa
> yang bergejolak dihatinya.
>
> Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku
> tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis
> kemudian.
>
> Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7
> tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia
> berhasil
> membuka password email Papa nya, dan memanggilku, ” Mama, mau lihat surat
> papa
> buat tante Meisha ?”
>
> Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,
>
> Dear Meisha,
>
> Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi
> seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini,
> bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku
> mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.
>
> Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku
> sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku
> memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku
> tidak
> menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2
> terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak
> sanggup
> mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk
> mengisi
> kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.
>
> Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta
> untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2
> beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya.
> Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami,
> namun
> tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
>
> Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah
> menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang
> komitmen
> pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal
> aku
> bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang
> dia
> inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan
> tubuhku,
> tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun
> ada
> tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti,
> you are
> the only one in my heart.
>
> yours,
> Mario
>
> Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru
> berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan
> menyayangiku.
>
> Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah
> bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
>
> Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis
> surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan
> aku
> letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.
>
> Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya.
> Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu
> aku
> belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran,
> karena
> aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan
> baju.
> Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku
> malu
> terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia
> memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.
>
> Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa
> aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari
> suaminya ?
> Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak
> menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan
> mengangguk
> dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.
>
> Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya
> dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya.
> Dengan
> pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan
> itu.
> Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu
> mencintainya.
>
> **********
>
> Setahun kemudian.
>
> Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata
> berlinang. Tanah pemakaman itu
> masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
>
> ” Mario,
> suamiku..
>
> Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku
> pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku
> begitu
> terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku
> ketika aku
> tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin
> memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan
> tidak
> memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan
> menuruti
> keinginanku. Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria,
> telah
> memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan
> apa
> saja untukku…
>
> Ternyata aku keliru.. aku menyadarinya tepat sehari
> setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari
> seorang
> teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
>
> Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, ”
> kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku
> sudah
> memilihmu menjadi istriku ?”
>
> Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
>
> Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak
> pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu.
> Aku
> bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
>
> Istrimu,
> Rima”
>
> Di surat yang lain,
>
> “…Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau
> tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku
> tidak
> pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat
> cahaya yang
> penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang
> Meisha..”
>
> Disurat yang kesekian,
>
> “…Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta
> padaku.
>
> Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan , aku tidak
> lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak
> jika
> emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai.
> Aku
> tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar
> dengan
> ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu
> meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku
> merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku
> suapi,
> aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit
> saat
> engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu
> bermasalah…
>
> Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu,
> aku akan tetap berusaha dan menantinya….”
>
> Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua
> mata indahnya. dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu
> disampingnya.
>
> Disurat terakhir, pagi ini.
>
> “……Hari
> ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau
> tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena
> hari ini
> aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar
> membuatnya
> dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang
> hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai
> motor.
>
> Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar
> kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju
> supaya
> tidak sakit.
>
> Tahukah engkau suamiku,
>
> Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita
> pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar
> kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu
> ?…”
>
> Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
>
> ” Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh
> aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya
> kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama
> seperti
> siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi
> aku
> selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama
> menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan
> tinggi..
> aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante… aku melihatnya masih
> memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak..” Jelita memeluk Meisha dan
> terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit
> di
> hatinya, tapi dia sangat dewasa.
>
> Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi
> pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin
> Rima
> membacanya.
>
> Dear Meisha,
>
> Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia
> tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia
> pulang
> dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan
> memeluknya.
> Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku
> mulai
> bergetar.. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?
>
> Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau
> sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku
> akan
> membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor
> kemana-mana.
> Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku..
>
> Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang
> masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam.
> Semuanya
> telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang,
> ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.